oleh

Tadabur Alam SAKA Wanabakti Malingping Jadikan Ajang Eksplorasi Wisata Alam Lebak

SEKILASINDONESIA.ID, Lebak – Satuan Karya Pramuka (SAKA) Wanabakti – Malingping sukses menggelar kegiatan Tadabur Alam dengan mengusung tema “Wanabakti Sebagai Agent Ekspedisi Hutan Wisata di Lebak Selatan”, bertempat di hutan wisata Lebak Damar, Desa Hegarmanah, Kec. Cibeber, pada Sabtu – Minggu, (06 – 07/08/2022).

Ketua Pelaksana Kegiatan, Ali Rijwan, mengatakan, dalam giat yang diikuti oleh beberapa elemen organisasi siswa ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan SAKA WANABAKTI.

“Dalam rangka mengobservasi, meneliti dan mengamati kondisi objektif hutan wisata di Lebak selatan pasca masa transisi covid 19 melanda,” kata Ali Rijwan.

Sementara itu, Adhanudin, Pelatih PMR WIRA SMKN 1 Malingping, mengungkapkan, bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi peserta didiknya.

“Selain menjadi ajang refreshing dan liburan, juga bisa dijadikan ajang eksplorasi wisata alam dan meramu study kasus berupa materi-materi yang sudah dipelajari disekolah,” kata

Hendrik Arrizqy, Ketua Dewan SAKA Wanabakti – Malingping, menuturkan, dalam agenda Tadabur Alam di Lebak Damar kali ini yang menjadi objek sasaran untuk bahan pengamatan adalah Curug Ciporolak yang berada di kampung Lebak Picung, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cibeber.

“Para peserta akan diarahkan panitia untuk melakukan susur sungai ditepian Kali Ciambulaung sebagai akses menuju Curug Ciporolak dan melakukan wawancara terhadap masyarakat setempat,” katanya.

Alhasil, kata Hendrik, ada beberapa catatan yang ditemukan para peserta setelah melakukan proses observasi tersebut, diantaranya air sungai ditepian Kali Ciambulaung masih sangat jernih dan terjaga keasriannya. Warga sangat tertib dalam menjaga kondisi sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan mandi dan mencuci di tepian sungai, BAB, dll.

“Sementara, hasil proses wawancara yang dilakukan dengan warga setempat meliputi beberapa aspek yang diwawancarai agar kemudian mendapat data yang valid. Diantaranya aspek ekonomi, budaya, dan pendidikan,” ujarnya.

Dijelaskan Hendrik, dari aspek budaya, misalnya dikampung tersebut masih menjaga kultur adat istiadat setempat.

“Salahsatu contohnya ketika melangsungkan acara pernikahan disana diwajibkan untuk mengundang dan memakai alat musik angklung, menjalankan setiap tahunnya agenda seureun taun, juga warga setempat sangat antusias dalam menyambut bulan kemerdekaan dikala bulan Agustus datang. Dengan rutin mengadakan agenda yang disebut pesta padi,” terang Hendrik.

Kemudian, lanjut Hendrik, dari aspek ekonomi, masyarakat setempat dominan memilih petani dan pekebun sebagai pekerjaan masing-masing meski ada beberapa yang berprofesi sebagai pengrajin barang-barang tradisional dari bambu.

“Masyarakat juga seringkali mendapat subsidi dari pemerintah terkait kelangsungan hidup disana. Misalnya, listrik, makanan, pupuk untuk tumbuhan, dll,” ujar Hendrik.

Sementara dari aspek pendidikan, masyarakat setempat sudah sedikit mudah dalam menempuh pendidikan.

“Diketahui disana terdapat jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dekat dengan area pemukiman dan SMA/SMK meskipun sedikit jauh di luar area pemukiman. Tetapi masyarakat setempat sudah bisa menempuh jarak tersebut dengan mobilisasi kendaraan bermotor,” tutup Hendrik.

(Usep)