oleh

Jejak Jejak Lilirilau di Bumi Latemmamala; Catatan kecil IMPS Rayon Lilirilau

OPINI – Selamat membaca para manusia yang berfikir!!!

Sejarah merupakan literatur Hidup yang ada dan terus bernafas sejauh peradaban itu menunjukkan keeksistensiannya.

Layaknya sejarah pada umumnya, tentu ia dapat dimaknai,ditafsirkan dan dapat pula diciptakan. maka itulah  kita dituntut untuk benar benar paham asbabun nuzul/ latar belakang kehadiran sejarah itu,bukan hanya sekedar ikut-ikutan tanpa paham substansi yang dimaksud.

Penulis mencoba memandang sejarah sebagai pohon yang tumbuh  mengakar kokoh dan beranting rindang meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa suatu saat pohon tersebut akan lapuk,tumbang, bahkan mati.

Pun demikian,setelah ia mati maka ada peluang sehingga pohon itu dapat terurai dan memberimanfaat pada lingkungan sekitarnya.

Adapun yang menunjang sejarah agar bisa terus hidup adalah dengan peranan budaya. Peran terbesar dari budaya adalah menghadirkan serta mempromosikan peninggalan leluhur,baik berupa barang,gagasan,bahasa maupun kearifan lokal sebagai wujud pemeliharaan sejarah dari generasi ke generasi.

Budaya merupakan kebiasaan lampau yang terus berjalan lama dan menjadi suatu identitas tertentu disuatu masyarakat ataupun suatu wilayah. Sejatinya sejarah mengingatkan kita tentang cara,makna,alur maupun capaian dan budaya hadir sebagai bagian dari sejarah karena sejarah dan budaya saling menguatkan.

Dengan sejarah dan budaya manusia dapat mengetahui kearifan peradaban yang bersumber dari  rentetan peristiwa masalalu.

Manusia juga dapat lebih paham akan ayat ayat kekuasaan tuhan dimuka bumi ini baik itu ayat qauliyyah(tersurat) maupun ayat kauniyyah (Alam Semesta) yang terpenting adalah manusia bisa menyerap nilai dari sejarah maupun budaya itu sendiri. Paling tidak ada ibrah maupun ghirah yang bisa dipetik dari rihlah peradaban leluhur guna untuk menunjang kehidupan saat ini.

Akan tetapi, saat ini kita justru diperhadapkan pada zaman yang menganggap bahwa mempelajari sejarah dan budaya adalah sebuah kekolotan, tidak jarang dianggap sebagai  suatu pengkultusan lebih dan menolak kemoderenan saat ini.

Pandangan semacam ini tentu sering kita jumpai, lantas bagaimana cara kita menyikapinya? Tentu ketika kita mempelajari sejarah dan budaya bukan berarti kita harus kembali berperawakan seperti orang dulu dan cenderung menolak modernitas, akan tetapi intisari dari sejarah itulah yang harus sama sama kita aktualisasikan sebagai pijakan kita saat ini. Disisi lain,memang tidak mutlaq bahwa praktek kebudayaan itu tidak benar,begitupun sebaliknya.

Akan tetapi itu bukan menjadi satu alasan untuk kita tinggalkan, sampai kita deskriditkan.  Tapi kesemuanya itu memerlukan penelitian dan pencarian titik temu yang mendalam.

Sulawesi Selatan sarat akan berbagai bentuk kebudayaan dan kepercayaan,maka tidak salah ketika  kitab I LAGALIGO dinobatkan sebagai salah satu bentuk ekspresi para leluhur yang dituliskan dari naskah lama.

I LAGALIGO lazimnya menceritakan kolosal masalalu,petuah,protokoler adat dan berbagai hal yang mendeskripsikan Sulawesi dan suku bugis pada khususnya.

Kesemuanya,cukup untuk menjadi alasan seorang Van He Keeren untuk mengatakan bahwa hanya ada 3 peradaban yang mampu menceritakan peradabannya secara detail yaitu,Yunani dengan semangat literasi dan infrakstrukturnya,Islam dengan Acuan kitab sucinya berserta sang nabi Muhammad sebagai Ekonom,Politikus,Imam,dan patron terbaik di dunia,dan Bugis dengan kebudayaan melalui kitab yang tebal yang bernama I LAGALIGO yang didalamnya memuat kebiasaan manusia bugis waktu itu.

Jejak jejak sejarah dan budaya itu juga hadir di kecamatan Lilirilau yang terletak di kabupaten Soppeng Sulawesi selatan.

Ibu kota kecamatan Lilirilau adalah Tjabenge(cabbenge) + 15 Km dari Kota Watansoppeng. Kecamatan yang terletak dibagian Alau(timur) soppeng dulunya  terdapat banyak sulewatang,akkarungeng,maupun kerajaanpallili/passiajingeng(kerajaan kekerabatan) soppeng pada masanya.

Fakta sejarah menyebutkan bahwa Lilirilau dulu sangat terkenal dari beragam aspek baik ekonomi,sosial,politik,budaya maupun adat istiadat disana. Ketika orang bertanya mengenai lilirilau tentu jawaban yang lazimnya terbesit adalah kampung yang banyak iconya(tembakau).

Ico yang berasal dari cabbenge memang sudah lama eksis dikalangan para penikmat tembakau. Tekstur yang khas dan masih mengandalkan alat pembuatan tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi kita yang mencicipinya. Kiniico cabbenge telah dipasarkan hingga diluar pulau Sulawesi dikarenakan keselarasan nikotin dan tar yang ico tersebut kandung.

Bukan hanya sampai disitu, Di sepanjang Lilirilau juga terdapat lembah peradaban sungai walennae. Sungai walennae berhulu di pegunungan bontotangngui daerah bontocani kabupaten Bone dan mengalir melewati kabupaten Soppeng(daerah Lilirilau), Wajo dan sebagian Bone.

Sungai Walennae yang terletak di kecamatan Lilirilau cukup memikat beberapa ilmuwan barat untuk meneliti keanekaragaman yang terkandung dalam sungai purba tersebut.

Sebut saja, Van Heekeeren (1947-1972) menginformasikan akan banyak situs yang ada didalam sungai tersebut antara lain, batu massif,fosil fosil vetrebrata,alat batu serpih,fosil fosil hewan purba yang diperkirakan hadir ribuan tahun lalu. serta alat pertanian maupun alat perang di berbagai daerah di Lilirilau yaitu di Cabbenge,Macanre,Kebo,Talepu,salonro,Bulucepo,Baringeng,dan Lompulle yang menunjukkan bahwa peradaban yang ada di Lilirilau jauh lebih tua dibanding peradaban lain yang hadir di soppeng.

Selain itu, temuan temuan mengenai gajah purba,fosil fosil kura kura darat dan berbagai fosil fosil alat bantu pada zaman batu dan sebagainya. Maka tidak heran ketika Van Hekeeren didalam bukunya “The stone age of Indonesia” menceritakan terkait ekspresi penemuannyadari lembah sungai walennae.

Selain Van Heekeeren,ada juga ilmuwan Barat yang bernama C.pelras yang berpendapat bahwa ketika kita kembali meneliti lebih dalam mengenai temuan temuan arkeologis di Lilirilau (cabbenge) itu akan menunjuk kanusia temuan tersebut berkisar 30.000-40.000 tahun.

Secara geografis,Lilirilau mempunyai deretan perbukitan dan sungai yang menggaris sepanjang daerah tersebut. Saya masih teringat dengan ungkapan orang tua dulu, “Mangkalungeng riBuluE,Massulappe ri galungE , na Mattoddang Ri babannaWalennaE” dalam artian, Berbantal pengunungan,Berselimut di areal persawahan,dan Menepi di sisi pintu Sungai WalennaE. Sebuah perkataan yang cukup untuk menjelaskan letak geografisdari sebuah kecamatan yang dilalui air sungai walennaE

Adapun mata pencaharian penduduk didaerah tersebut sangat beragam, ada nelayan,petani,pekebun,dan kantoran.

Potensi sumber daya alam disana cukup melimpah. Di sektor sungai, hasil hasil tangkapan ikan dari nelayan sangat beragam, mulaidari ikan tawes(bale kandia),ikan mujair(bale kamboja),Ikan Patin,udang bahkan Ikan purba yaitu Ikan Sidat (masapi) juga sering didapat oleh nelayan disana. Meskipun,kini populasi ikandi sungai walennae sudah tak sebanyak dulu akan tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup nelayan air tawar Lilirilaupada umumnya.

Lilirilau juga kaya akan Kebudayaan Adat istiadat yang sampa isaat ini masih terawat meskipun akhir akhir ini sudah jarang dilakukan dikarenakan pandemi yang melanda dunia juga disebabkan oleh hilangnya kesadaran akan budaya yang ada.

Salah satu kebudayaan yang sampai saat ini selalu dilanggengkan khususnya di pedesaan adalah Macceraq Bola,Maddoja Bine, mattoana Arajang,Malambiq,Mappadendang,mappatudang parellaudampeng,dan lain lain.

Macceraq bola adalah tradisi selamatan atas rumah yang bermakna ungkapan syukur si pemilik rumah atas rumah yang ia tempati.

Adapun waktu pelaksanaannya adalah bulan syawal(sawwaleng),zulehajji(Dzulhijah) dan Sya’ban. Lazimnya ,tuanrumah akan mengundang para kerabat,sanak keluarganya untuk hadir dirumahnya. Adapun hidangan yang disajikan oleh tuan rumah biasanya terdiri dari Nasi,Nasu manu lekku,Pecobue,bajabu,salonde dan tempa tempa. Kesemuanya itu mengandung filosofi dan harapan agar rumah (yang diceraq) beserta seisi rumah dijauhkan dari marabahaya.

Maddoja Bine adalah tradisi pra menanam padi sebelum ditanam. Bagi orang Lilirilau,tradisi ini bermakna permohonan izin untuk menanam padi yang akan ditanam disawah. Konon, orang tua dulu “maddoja” begadang menjaga bibit padi.

Maddoja ini sebagai wujud penghormatan bagi sang hyang seridan meong palo karellaE yang telah memberikan bibit padi. Waktu pelaksanaannya tidak menentu(mengikut Musim tanamPadi). Diacara Maddoja bine biasanya dimulai oleh seorangsanro Ase (tenaga ahli padi/orang yang dituakan) denganmengucapkan doa kepada Tuhan yang maha esa guna memohonkeselamatan dan kesuburan untuk padi sebelum ditanam esokharinya.

Mallambiq merupakan tradisi sekaligus teknis mencari ikansuku bugis yang sudah sangat jarang dijumpai. Terakhir saya menyaksikan ritual ini sekitaran 6 tahun yang lalu. Tradisi ini berfokus di sungai,sungai yang airnya dangkal akan dibuatkan pagar pagar  tradisional dari kayu guna untuk membendung aliran sungai.

Disetiap sela pagar pagar tersebut akan diikutkan pula jala jala panjang. Yang bertujuan untuk menjerat ikan yang akan lewat melintasi sungai tersebut.

Di antara pagar pagar tersebut,tepatnya pas ditengah arus sungai sengaja dihamparkan satu batang bambu muda yang akan membuat percikan keras ditengah sungai sehingga membuat ikan menghindar dari bambu tesebut,dan masuk dalam perangkap (jala-jala) yang disimpan di sela kayu yang membentuk pagar tersebut.

Cara ini bertujuan agar ikan ikan leluasa untuk dijala disekitaran bambu tersebut. Tapi sebelum itu,setiap orang yang akan mallambiq akan melakukan ritual yakni mabbaca duang atau lebih dikenal dengan macceraq lambiq. Ritual tersebut dipimpin oleh sanro(semacam juru kunci) sebagai bentuk penghormatan bagi sungai dan permohonan keselamatan bagi para pallambiq (orang yang akan mallambiq) agar senantiasa diberikan keselamatan dan diberikan hasil ikan yang melimpah. Pada waktu itu juga, Sanroakan memberikan informasi mengenai pantangan bagi pallambiq ketika mallambiq itu dilakukan,biasanya sanro akan menetapkan zona terlarang untuk mengambil ikan. Tradisi mallambiq iniadalah tradisi turun temurun bagi masyarakat Desa kebo kecamatan Lilirilau kab soppeng.

Selain keanekaragaman budaya,adat istiadat,perekonomian dan sebagainya. Lilirilau juga punya potensi besar dibidang pemudanya,banyak dari wija tau lilirilau yang merantau mencari nafkah ada pula yang merantau untuk mencari ilmu.

Di Lilrilaupula terdapat salah satu organisasi kemahasiswaan yang bernama IMPS Rayon Lilirilau (Ikatan Mahasiswa PelajarSoppeng Rayon Lilirilau). Tepat hari selasa,tanggal 7 juli 1975 merupakan hari lahir organisasi ini. Organisasi tersebut menjadi bagian dari PP IMPS telah memasuki usia yang ke 46 tahun danberhasil menciptakan kader kader yang saat ini berkiprahdiberbagai bidang.

Drs. H.Andi Jamaro adalah Salah satu kaderIMPS Rayon Lilirilau sekaligus demisioner ketua Umum IMPS rayon Lilirilau periode 1982-1985 yang  familiar dikalangan masyarakat khususnya di Sulawesi selatan.

Ada juga Andi Muslimin Muis salah satu kader IMPS Rayon lilirilau sekaligasDemisioner Ketua Umum Periode 2007-2008 yang saat ini sebagai manager salah satu perusahaan yang ada di provinsi Sulawesi tenggara, Ada Kakanda H.Azwar yang juga sebagai pengusaha  sukses di lilirilau, Kakanda Herman yang kini dalam proses penyelesaian studi S3 nya di Bandung, ada kakanda Redi,Kakanda Aswinto dan masih banyak  lagi.

Mereka semua adalah saksi atas keberlangsungan organisasi tua ini dalam mengarungi  problema dari masa ke masa.

Mereka semua adalah kakak sekaligus orang tua kami di Lilirilau yang menetap di suatu pondok surga, Mereka menyebutnya Pondok Goyang. Pondok yang penuh akan kenangan dan perjuangan para Kader Lilirilau beberapa tahun Silam.

Berbicara tentang sejarah bukanlah jalan untuk menjadikannya sebagai legitimasi dan berlindung dibalik kebesaran sejarah tersebut. Toh, sejarah sebagai motivasi untuk lebih progresif dan lebih baik tentunya. Orang Bugis paham akan namanya “Bate Ella” nah, inilah yang menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab yang semestinya. Akhir tulisan, Hanya orang yang bertahanlah yang akan ditulis oleh sejarah. Semoga dengan hidupnya kembali Organisasi ini, dapat menjadi stimulus untuk terbinanya wija tau lilirilau  adil makmur di ridhoi Allah SWT.

Mohon maaf atas kesalahan,ayo  sama sama belajar baik!

Selling mattunrung mattakke makkure jawi jawi!

Belajar,berjuang,Bertaqwa.

Billahi taufiq Wal Hidayah,wabillahi taufiq Wassa’adah. Salamakki!!!

News Feed