oleh

Lomba Bertutur Diharapkan Jadi Ekstrakulikuler Seluruh SD di Bantaeng

BANTAENG – Bupati Bantaeng, Ilham Syah Azikin menghadiri sekaligus membuka Lomba Bertutur (Story Telling) Tingkat SD/MI se Kabupaten Bantaeng di Perpustakaan Umum Bantaeng, Jalan Manggis, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng, Senin (5/7).

Lomba itu mengusung tema “Menumbuhkembangkan kebudayaan kegemaran membaca dan literasi serta kecintaan terhadap budaya lokal dalam membentuk karakteristik anak sejak usia dini”.

Kepala Dinas Perpustakaan, Andi Akil dalam sambutannya mengatakan, lomba itu bertujuan untuk mendekatkan dengan masyarakat. Lomba bertutur tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Diharapkan lomba ini menumbuhkan minat dan kecintaan anak kepada budaya lokal yang baik serta dapat membangun karakter anak yang lebih baik,” kata dia.

Dia juga menyampaikan kepada Bupati Bantaeng untuk melaksanakan kegiatan lomba bertutur sebanyak tiga kali dalam satu tahun mulai tahun 2022. Harapannya kata dia agar anak didik di setiap sekolah pandai bertutur atau bercerita.

Sebelum sambutan Bupati, diserahkan buku kepada lima komunitas baca yang ada di Kabupaten Bantaeng.

Mengawali sambutannya, Bupati Bantaeng, Ilham Syah Azikin mengajak para peserta, guru dan tamu yang hadir untuk terus saling menjaga dari Covid-19.

Hal ini kata dia sangat penting agar aktivitas pemerintahan dan masyarakat tetap produktif.

“Yang penting juga, tentunya kegiatan kita dapat menciptakan generasi yang lebih baik lagi dari apa yang ada pada hari ini,” kata Ketua KNPI Sulsel 2007 – 2010 itu.

Dia juga mengharapkan, lomba bercerita atau bercerita dapat memberikan manfaat yang luas untuk kabupaten Bantaeng.

Contohnya seperti, panitia dan peserta yang hadir mampu bertutur atau bercerita kepada keluarga dan tetangga tentang bahaya dan penanganan Covid-19.

“Bertutur seperti ini penting agar kita dapat tetap produktif seperti sekarang ini,” kata dia.

Sedikit mengkritik, kata Ilham Syah Azikin, kalimat “Story Telling” pada kegiatan itu jika tidak wajib, diganti dengan kata “Accarita”. Hal ini dimaksudkan agar anak – anak di Bantaeng bangga dengan budaya lokalnya sendiri.

“Story Telling kalau tidak wajib diganti kata Accarita, agar anak – anak bangga dengan budaya lokal yang ada di sekitar kita,” kata Bupati Alumni Lemhanas RI itu.

Dia juga mengapresiasi Dinas Perpustakaan Bantaeng yang telah membuka ruang aktualisasi dan apresiasi anak – anak. Kata dia, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak – anak yang lain

“Anak – anak kita harus terus mengasah keterampilan, ruang – ruang apresiasi kepada anak sangat dibutuhkan,” kata dia.

Lebih lanjut, dia menyampaikan kepada Kepala Sekolah maupun guru yang hadir, kedepannya bertutur atau bercerita dapat dijadikan ekstrakurikuler di sekolah. Sehingga lomba bertutur dapat berjenjang.

“Semua pihak bertanggung jawab menjaga budaya literasi di Bantaeng. Termasuk saya. Bersama pimpinan DPRD saya telah mengusulkan Perda Literasi sebagai Perda Inisiatif nanti. Diharapkan bukan Perda ini bukan untuk gaya – gayaan. Ini akan menjadi dasar untuk memayungi aktivitas dan menjadi dasar pelaksanaan literasi,” kata doktor ilmu pemerintahan itu.

(Agus)

 

News Feed