oleh

Di Era Millenial, MA Harus Mampu Kembalikan Spirit Menes Sebagai Pembaharu Pendidikan

MENES, BANTEN – Mathla’ul Anwar (MA) dapat mengembalikan kejayaannya bila mampu melakukan modernisasi di bidang pendidikan yang menjadi inti dari gerakan MA. Dimasa lalu MA dikenal sebagai pembaharu di bidang pendidikan di tengah lingkungan masyarakat tradisional. Sebut saja sistem pendidikan klasikal yang digagas MA yang sebelumnya bukan tradisi pada sistem pendidikan agama.

“Sebelum tahun 1900-an Menes menjadi salahsatu pusat peradaban di Banten sehingga banyak pelajar dari luar Banten belajar ke sana. Di masa itu Menes jauh lebih berkembang dibanding ibukota Pandeglang,” kata Kyai Embay Mulya Syarief, anggota Majlis Amanah MA, pada diskusi terbatas persiapan Muktamar MA dengan warga MA di Karawaci, Tangerang, kemarin malam (22/03/2021).

Menes ketika itu telah memiliki peradaban kota yang terbuka sehingga para ulama yang mengajar para santri tidak terpaku pada satu madzhab. “Semua madzhab dalam Islam dikenalkan. Demikian pula pemikiran para filsuf seperti Ibnu Rusyd dipelajari. Rasionalitas dalam beragama menjadi sangat penting bagi ulama-ulama Menes di zaman itu,” ujar Embay.

Di era millenial, menurut Embay, MA harus mampu mengembalikan spirit Menes sebagai pembaharu di bidang pendidikan. Kriteria keberhasilan pendidikan yang mudah dirasakan orang tua siswa di era modern adalah kualitas keilmuan dan perubahan perilaku anak didik. “Bila perlu kita harus mencontoh pengelolaan pendidikan modern non muslim yang berkualitas serta mengedepankan budi pekerti alias akhlakul karimah,” kata Embay.

Embay memberi contoh banyak dokter-dokter non muslim yang dulunya berasal dari pendidikan dasar dan menengah di lembaga pendidikan agama non Islam mampu menampilkan pelayanan yang ramah. “Tentu menjadi dokter merupakan hasil pendidikan yang berkualitas, demikian pula keramahan mereka hasil pendidikan akhlak yang baik meskipun mereka melayani tanpa atribut pakaian keagamaan,” tutur Embay.

Menurut Embay, bila kualitas pendidikan di setiap perguruan MA meningkat, maka dampaknya nama MA dapat semakin diperhitungkan di wilayahnya masing-masing bahkan hingga level nasional dan internasional. “Kiprah para alumni yang berkontribusi di berbagai bidang nantinya secara otomatis mengangkat nama MA,” imbuhnya.

Menurut peneliti di Balitbang Kemenag, Drs. H. Ahmad Huriyudin Humaedi, Mathla’ul Anwar juga mesti mempersiapkan ledakan siswa putus sekolah perguruan MA yang tidak melanjutkan ke jenjang universitas karena keterbatasan biaya.

“Dibutuhkan Pesantren Keterampilan Mathla’ul Anwar yang dibangun di masing-masing wilayah. Lembaga ini dibangun untuk menampung siswa yang berhenti sekolah, tidak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, serta mahasiswa yang tidak menyelesaikan studi kesarjanaannya,” terang Huriyudin.

Menurut Huriyudin, waktu pendidikan cukup 1 tahun yang bekerjasama dengan pemerintah setempat, perusahaan otomotif, industri garmen, usaha kuliner, perhotelan dan lain-lain sesuai dengan konsentrasi bidang keterampilan yg digarap. Kurikulum difokuskan pada pemenuhan kecakapan teknis (70%), baca tulis Qur’an (10%), dan ibadah (10%), dan kurikulum khusus (misalnya: teologi kerja, Fikih Kerja, Otonomi Manusia dan Martabat Kemanusiaan, Manajemen Usaha).

Santri pesantren ini sepenuhnya diarahkan pada penyerapan tenaga kerja terampil, baik di industri formal maupun usaha informal. “Perlu inovasi baru dengan nenyusun kurikulum dan silabus pembelajaran disusun oleh Majelis Pendidikan Mathla’ul Anwar dengan membentuk tim ad hoc,” kata Huriyudin.

Ketua Umum DPP Gema Mathla’ul Anwar, Ahmad Nawawi, berharap ide-ide yang dilontarkan dalam diskusi terbatas itu menjadi bahasan penting pada muktamar MA yang akan digelar pada 1-3 April mendatang. “Steering committe dapat menyerap aspirasi warga MA sehingga dapat dieksekusi oleh Ketua Umum yang terpilih kelak,” kata Nawawi.

(Usep_Adab).

News Feed