oleh

Rizwan Sindir Uday Hanya Cari Sensasi

BANTEN – Belakangan ini Banten diramaikan oleh statement Uday Suhada aktivis anti korupsi yang sering mengkritisi kebijakan pemerintah khususunya pemerintah Provinsi Banten. Hal ini dinilai Rizwan hanya sebatas sensasi dari seorang Uday.

Rizwan, Aktivis juga sebagai Ketua Alumni Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) Sukabumi menyindir Uday hanya sebatas cari sensasi.

“Mungkin hanya cari sensasi, karena saya perhatikan Uday itu sering mengkritisi Gubernur dalam konteks yang tak berdasar seperti halnya soal ramainya isu monopoli proyek oleh orang yang ngaku dekat Gubernur yang diramaikan di media oleh Uday seolah-olah ada keterkaitan dengan Gubernur Banten,” kata Rizwan. (18/03/2021).

Rizwan mengatakan saat ini sistem tender aturannya semakin ketat dan transparan serta Aparat Penegak Hukum (APH) ikut memantau.

“Kan ada prosedur dan aturan yang harus diikuti oleh setiap pengusaha yang ingin mengikuti tender, kenapa kang Uday yang heboh, kalaupun ada aturan yang dilanggar itu ranahnya penegak hukum yang menindak, kan dipantau oleh aparat dari awal sampai akhir,” ujar Rizwan.

Rizwan mengajak Uday agar tidak tutup mata atas capaian keberhasilan Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) dalam pembangunan.

“WH (Gubernur Banten) meraih penghargaan dari KPK RI terkait aksi pencegahan korupsi di Banten, dari Kemendagri juga meraih penghargaan sebagai Gubernur terinovatif, dan raih penghargaan keterbukaan informasi publik, dan masih banyak lagi penghargaan yang diraih Wahidin Halim, maka kang Uday jangan tutup matalah atas capaian keberhasilan WH dalam membangun Banten,” tambahnya.

Menurut Rizwan, soal adanya isu monopoli proyek, hal tersebut ada dalam istilah persaingan usaha.

“Istilah monopoli proyek itu perbincangan diantara para pengusaha dalam persaingan usaha, biasanya yang kalah tender akan menuduh demikian” ujar Rizwan.

“Kalau menemukan adanya monopoli usaha ya tinggal lapor ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Apalagi, pemerintah telah menyelesaikan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat” tambahnya.

Terpisah, Uday Suhada, membantah pernyataan tersebut. Tidak pernah ada kepentingan pribadi atas sikapnya melakukan kontrol khususnya di Banten ini.

“Cari Sensasi? Saya melakukan semua ini hanya semata mata demi Banten, saya selalu berusaha menjadi orang baik dan saya ingin Banten ini selalu baik diberbagai bidang,” tegas Uday.

Ditegaskan Uday, terkait statementnya di beberapa media merupakan sebuah bentuk kontribusi kecintaan kepada Banten, “Perihal adanya isu monopoli proyek, saya tegaskan bahwa saya akan terus mengungkap karena bukan hanya satu dua orang oknum namun ada beberapa oknum, dan ini wajib semua tau. Betul, dalam hal ini betul ada pihak yang berwenang dalam menangani masalah ini, namun saya sebagai warga sipil pun punya hak untuk bersuara dan mengungkapkan semua ini,” terangnya.

Lanjut Uday, gak masalah saya dituding cari sensasi. Meskipun kalo mau ya dari dulu saja. “Toh teman-teman media bahkan media nasional selama ini percaya kepada saya dalam menulis statement untuk persoalan publik. Sebab saya ingin agar sisa hidup saya bermanfaat untuk orang banyak, khususnya untuk Banten,” pungkasnya.

Seperti diketahui, ramai dibeberapa media baik cetak, online maupun media sosial atas statement Uday Suhada yang mengangkat isu monopoli proyek di Provinsi Banten.

(Usep).

News Feed