oleh

Sebaik-baiknya Harta Ialah Amalan Untuk Keselamatan

MAMUJU – Awal tahun 2021 menjadi awal strategi manajemen pemasaran diperusahaan kami, penetrasi pasar menjadi strategi awal kami dengan melakukan sosialisasi profile perusahaan mulai dari Makassar
hingga Pasangkayu.

Singkat cerita, 13 Januari kami tiba di kota Mamuju, Sulawesi Barat, pukul 15.30 wita dimana tidak sesuai dengan rencana itenerary, sehingga kami melanjutkan perjalanan ke kota Pasangkayu.

Tiba sekitar pukul 22.00 wita dan bertemu rekan jurnalis media Sekilas Indonesia yang membantu kami
mencari kuliner khas serta penginapan yang nyaman di lokasi.

Mamuju dan Setumpuk Kisah 

Keesokan harinya setelah menyelesaikan agenda kerja, kami menuju Tobadak, Mamuju Tengah dengan agenda yang sama. Melirik jam sekitar pukul 16.00 wita setelah tugas selesai, kami bergegas menuju kota Mamuju untuk melaksanakan agenda kerja yang sempat tertunda.

Dalam perjalanan menuju kota Mamuju, kami menyempatkan berswaphoto di kebun sawit dengan luas beratus hektare nan indah di kecamatan Salugatta, Mamuju Tengah. Tidak hanya itu kamipun menyempatkan diri mencicipi durian mentega (kata orang sana).

14 Januari 2021, Sekitar pukul 22.00 wita kami tiba di kota Mamuju & check-in hotel rekomendasi teman sekolah SMA yang kebetulan berdomisili disana. Sebelumnya kami telah mendapat informasi terkait gempa di kabupaten Majene yang getarannya terasa hingga di kota Mamuju

Perut susah diajak kompromi, sop ayam menjadi santapan kami malam itu yang lokasinya tepat depan hotel.
Sekitar pukul 22.30 wita kami masuk kamar dan berdiskusi terkait agenda besok pagi hingga lelahpun memaksa
mata kami terpejam di penginapan.

Merasakan Gempa di Penghujung Malam

Dalam lelah terjaga, mimpi buruk menghantuiku seakan terombang-ambing dalam getaran hebat. Di telinga terdengar suara hentakan kaki naik turun, suara gemuruh, langkah kaki tak beraturan, geruduk geruduk hingga jeritan wanita dan anak-anak memaksakan saya untuk tersadar bahwa ini nyata, iya nyata. Gempa berkekuatan 6,2 SR tengah menghantam kota Mamuju dan sekitarnya.

Astagfirullah.. astagfirullah.. astagfirullah adalah lafadz yang tak henti saya ucapkan bersama rekan.
Mencoba bangkit dari tempat tidur namun getaran 6,2 SR memaksa kami untuk tetap terbaring sembari melafadzkan Astagfirullah, seraya memohon pertolongan kepada Allah SWT. Hingga beberapa menit kemudian kami beranjak dan berlari keluar hotel.

Melihat kondisi hotel yang porak poranda serta teras hotel yang terangkat, kami segera berkemas dan berlari menuju dataran yang lebih tinggi.

Sewaktu terjadi gempa, ada dua lelaki kebingungan sambil membawa tas dan kopernya tidak tau akan kemana. Langsung saja kami ajak menuju dataran tinggi untuk mengamankan diri. Ternyata mereka juga akan menuju Makassar, mereka baru saja menyelesaikan agenda kerja bersama Gubernur Sulbar terkait pengolahan limbah sawit, sebut saja yang satu namanya Haji Mansyur & Satunya lagi Mas Suroyo.

Suara bising kendaraan yang melaju, bangunan & fasilitas jalan yang tumbang berserakan, tangisan orang dewasa & anak kecil menjadi teman digelapnya malam karena padamnya lampu serta komunikasi yang tidak stabil, kejadian itu sekitar 02.30 wita.

Mencoba Tenang di Kepanikan

“Jangan panik… jangan panik, bahasa dalam hati saya, mencoba tenang & berfikir jernih”. Mencoba mengirim pesan ke orang tersayang (orangtua & Istri). Isinya kira-kira begini “Jika melihat berita gempa di Mamuju, jangan panik. Saat ini saya dalam keadaan baik dan aman karena berada di daerah ketinggian”.

Dalam kondisi riuh, teman saya masih sempat menelfon mencari saya. Sebut saja namanya Nasrun anggota intel Kodim 1418 Mamuju. Singkat cerita kami bertemu di Warung miliknya dekat Hotel Maleo yang juga rusak parah akibat gempa, rumahnya juga ambruk akibat gempa.

Jalan akses Mamuju – Majene terputus sehingga Nasrun menuntun kami untuk menempuh jalan Mamasa – Polman agar kami bisa kembali ke kota Makassar, akses jalan cukup ekstrem disertai kondisi hujan jadi hati-hati ya.., ucap Nasrun.

Gunung, sungai serta pepohonan Hijau menjadi Pemandangan yang sangat indah mengawali kami memasuki Kabupaten Mamasa. Namun tidak hanya keindahan yang kami temui, jalan pengerasan, beberapa titik ruas jalan yang tertutup karena longsor serta jurang yang curam menguji adrenalin kami sepanjang perjalanan. Kurang lebih 217 km dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam akhirnya kami tiba di Kab Polman.

Pesan yang Tak Usang

Rasa syukur kami lafadzkan, Akhir cerita pesan kami yang masih diberi kesempatan oleh Allah swt.

“Jika kita mendengar kabar bencana saudara kita, sedekahkanlah sedikit hartamu untuk mengurangi sedikit bebannya karena jika kita yang berada pada bencana itu maka tiada harta yang paling berharga selain keselamatan & sebaik-baiknya keselamatan adalah Amalan.”

Tak lupa saya ucapkan rasa terima kasih Terimakasih teruntuk Pak Haji Mansyur & Mas Suryo atas bantuannya dalam perjalanan serta saudara Nasrun.

Tetap kuat & sabar kami siap untuk berbuat Amalan untuk Mamuju- Majene.

Penulis : Heril Juliawan As (Asst. Manager Marketing & Production Aksara Grafika Makassar)

Komentar

2 komentar

  1. Pelajaran besar dan saya ucapkan Terimakasih banyak atas informasinya,semoga semua crew sekilas indo juga kita semua selalu dlm lindungan Allah SWT,salam sukses selalu.

  2. Insya Allah dg kekompakan masyarakatnya, mamuju akan segera pulih. Dan kami akan kembali…..
    Pagi jumat setelah gempa, kami ditawari oleh pak ja’far utk istirahat di rumahnya yg kosong. Tp kami memolih utk sgr ke Makassar. Tetima kasih pak ja’far

Komentar ditutup.

News Feed