oleh

Anggota DPRD Lebak Kembali Temukan Telur HE Beredar di Kecamatan Wanasalam

LEBAK-Setelah beredarnya Telur Infertil busuk di Kecamatan Cijaku, kini terjadi di Kecamatan Wanasalam, Gunungkencana, Panggarangan, dan Kecamatan Cigemblong ini pasti beredar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Lebak

Demikian dikatakan Musa Weliansyah, Salah satu Anggota DPRD Lebak Asal Kecamatan Wanasalam Menjelaskan. Dikatakannya, karena umur telur HE ini yang cukup pendek maka penjualan melalui program Bantuan Sembako Pangan ini yang lebih tepat ketimbang dijual dipasar bebas.

Sebab,  melalui perogram sembako ini yang memenuhi kebutuhan sekitar 110.484 KPM se-Kabupaten Lebak dalam jangka waktu tiga hari telur HE berhasil terjual dan di distribusikan melalui program ini dengan sistem paket yakni Beras, Ayam, Telur, kacang tanah ada juga yang cuma Beras, telur, kacang hijau,  jelas Musa, Jumat (08/05/2020).

Musa Weliansyah juga sangat menyayangkan kejadian ini. Harusnya program BSP berjalan sesuai pedoman umum (Pedum) 6 T didalamnya adalah Tepat kualitas artinya komoditi yang dibeli KPM dari agen atau E-warung harus komoditi yang terjamin kualitasnya bukan malah komoditi yang buruk, ini sangat beresiko terhadap kesehatan.

“Harusnya supplier PT AAM PRIMA ARTA menyuplai komoditi yang berkualitas kepada Agen, saya menduga ini disengaja dilakukan karena harga telur HE jauh lebih murah harganya ketimbang telur premium selisih harga hingga Rp. 8000/kg nya,
telur HE ini kan dijual dengan harga eceran 16.000 s/d 18.000/kg Murahnya telur HE karena telur yang dilarang diperjualbelikan,” terang Musa.

“Saya sangat menyesalkan lemahnya pengawasan baik dari Dinsos Lebak, Disperindag dan satgas pangan polres lebak sehingga telur yang diduga INFERTIL ini beredar dijual oleh Agen sembako penyalur Bantuan Sembako Pangan. harusnya ini bisa lebih mudah diawasi dengan melihat Delivery Order disitukan jelas dari mana sumbernya. Apalagi PT. AAM PRIMA ARTA INI juga menggunakan gudang milik pemerintah daerah yaitu gudang milik Disperindag Kabupaten Lebak,” tandasnya.

Kuat dugaan penjualan telur HE ini dilakukan oleh supplier lain terhadap agen penyalur BSP atau BPNT seperti oleh CV. ASTAN dan Bulog karena ketiga supplier ini merupakan pemasok komoditi kepada 408 Agen Penyalur BSP di Kabupaten Lebak dan dari sejumlah agen diatas hanya dibawah 15 Agen yang mandiri.

Selain sistem paket komoditi yang diterima oleh  Kelompok Penerima Manfaat  juga diduga tidak berkualitas serta dilarang untuk diperjualbelikan, karena telur yang dikirim oleh PT. AAM PRIMA ARTA kepada Agen banyak dikeluhkan dan diduga telur HE,” tutupnya.

Hingga berita ini di tayangkan, pihak media terus mencari informasi terkait.

(Indra)

News Feed