oleh

Direktur Eksekutif LKS: Pernyataan Bupati Lebak Menyakiti Hati Warga Selatan

LEBAK – Direktur Eksekutif Lingkar Kajian Selatan (LKS)”Intifada”, Sandi Rustam, dalam opininya, menilai, pernyataan Bupati Lebak beberapa waktu lalu terkait tidak adanya pencemaran lingkungan di wilayah sekitar PT Cemindo dianggap aneh dan cenderung menyakitkan.

Kata Sandi, justru Bupati dengan entengnya berstatemen seperti itu ketika aspirasi dari puluhan aksi dilakukan. Bahkan persoalan debu yang langsung dialami warga.

“Bupati sebagai pejabat publik seolah justru malah memposisikan diri sebagai Humas PT Cemindo,” cetusnya.

Sandi juga menyanyangkan pernyataan yang dilontarkan seorang Bupati Lebak saat kegiatan di Sawarna.

“Ibu bupati yang pintar, coba ibu berkantor di sekitar Bayah sebulan saja, insyaallah secara faktual ibu akan merasakan apa yang setiap hari dirasakan oleh warga selatan terutama yang dekat pabrik semen. Mungkin memang tidak ada pencemaran yang secara aturan baku harus melalui berbagai uji itu, tapi biasanya paru-paru dan debu itu bisa langsung dirasakan, mungkin itu namanya bukan pencemaran, tapi yang kami rasakan setiap hari itulah kira-kira,” urainya.

“Ungkapan tidak ada pencemaran dan perusahaan yang taat, taat sama ibu?. Perlu ibu tahu atas dampak keberadaan perusahaan semen merah putih itu silahkan ibu rasakan juga dan resapi dengan hati nurani, kan ibu bilang harus membangun dengan hati bukan?,” tambahnya.

Sandi juga menyebutkan aktivitas pembongkaran batu bara di terminal khusus PT. Cemindo yang menimbulkan kepulan asap putih dengan aroma bau menyengat.

“Mudah-mudahan bisa nanti ibu rasakan sendiri sensasinya. Silahkan kroscek juga langsung ke warga, bagaimana dinding tembok rumahnya retak, serta tanya bagaimana merdunya suara conveyor yang tanpa henti, serta persoalan lain, silahkan nanti ibu bupati yang mulia rasakan,” tegasnya.

Dijelaskan Sandi, saat itu Bupati menyampaikan bahwa PT Cemindo Gemilang sangat taat dan tidak ada pencemaran lingkungan.

“Mungkin benar adanya, Ibu kan berada di Warunggunung yang pasti tidak kena dampak langsung PT Cemindo, jarak pabrik ke rumah ibu kan kurang lebih 100 KM,” jelasnya.

Selain itu, Sandi menilai, statemen Bupati terkait pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam melaksanakan pembangunan, itu benar adanya.

Begitupun rakyat ketika menyampaikan aspirasi mohon direspon secara manusiawi oleh pemimpinnya, jangan sampai cenderung hanya membela pemilik modal.

“Ingat yang memilih ibu itu rakyat, bukan Cemindo. Kami sebagai masyarakat mendukung penuh setiap pembangunan untuk kesejahteraan rakyat, tidak merugikan rakyat dan tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu saja,” ungkapnya.

Lanjut Sandi, pemimpin di manapun dan kapanpun rasanya tidak elok jika hanya berkoar-koar ingin mensejahterakan rakyat tapi pada prakteknya justru malah membela pemilik modal, jangan sampai pemimpin justru mengorbankan rakyat dengan dalih investasi, apalagi hanya dinikmati famili sendiri misalnya.

Sinergitas itu harus terjalin, jangan hanya sinergi dengan pemilik modal saja.

“Ibu yang humble, Investasi yang berpihak pada rakyat dan tidak merugikan rakyat pasti didukung penuh oleh rakyat. oh ya, soal tenaga kerja lokal, memang ada berapa ribu jumlah tenaga kerja lokal di Cemindo itu?, Selanjutnya keberadaan perusahaan juga jangan sampai hanya memberi nilai tambah pada segelintir orang dan kelompok tertentu sementara sebagian besar hanya jadi penonton dan menerima akibat buruk dari sebuah perusahaan,” tutupnya.

Cilangkahan, 16 Maret 2020

Direktur Eksekutif,
Lingkar Kajian
Selatan (LKS) “Intifada”,
Sandi Rustam

Reporter: Rijwan

 

News Feed