oleh

Maraknya Warung Remang Remang di Pantai Laba Labuan, “Pengayom Masyarakat Tutup Mata”

PANDEGLANG, SEKILASINDO. COM-Tahun lalu semua warung Remang-remang di kawasan pantai Laba desa Cigondang kecamatan Labuan-Pandeglang punah dirazia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) yang bergabung dengan element masyarakat, TNI dan Polri.

Namun kini di Pantai itu marak kembali warung-warung remang yang menyediakan minuman keras yang disertai perempuan penghibur bahkan ada juga Perempuan Sex Komersial (PSK). Di tempat tersebut marak juga dijadikan tempat karaoke malam yang disertai adanya minuman keras (Miras) juga Kupu-kupu malam.

“Tentunya semua itu karena lemahnya pihak petugas Ketentraman dan Ketertiban (TRANTIB) kecamatan Labuan begitu juga Trantib Kabupaten Pandeglang, sehingga marak kembali Sarang-sarang pemicu merebaknya penyakit masyarakat di tempat tersebut,” celoteh Rudi Kepala Bidang Penelitian & Pengembangan (Litbang) DPD LSM Gempita Pandeglang, Sabtu malam (15-03-2019).

Rudi juga memaparkan, begitu mahalnya minuman serta Rokok yang dijual di tempat itu, selain memicu merebaknya penyakit masyarakat, tentu saja di tempat tersebut sangat merogoh kantong para pengujung.

“Hasil obrolan bersama perempuan penghibur di tempat itu, bahwa harga Bir putih Rata-rata Rp. 80.000, Bir hitam Rp. 120.000, Kolesom Rp. 90.000 dan Rokok Sampurna Mild Rp. 30.000. Sementara boking perempuan di bawah Harga Rata-rata Rp. 500.000 per Sotime,” ungkapnya.

Bahkan Rudi juga mengatakan, maraknya sarang tersebut terkesan akibat pembiaran atau Pura-pura buta tuli pihak Trantib di Kabupaten Pandeglang, dan para pihak Polres
Pandeglang.

Menurut Rudi, jika semua pihak (pengayom masyarakat) menjalankan tugasnya, tentu saja hal tersebut akan terkontrol dengan baik serta tidak akan terjadi maraknya sarang penyakit masyarakat itu.

“Tidak mungkin para petugas pengayom masyarakat tidak mengetahui situasi serta kondisi di pantai Laba siang maupun malam hari, jika para pengayom tersebut bekerja sebagaimana mestinya, hal ini menjadi sebuah teka teki, apakah mungkin para pengayom masyarakat sengaja membiarkan maraknya tempat atau sarang penayakit masyarakat itu, atau ada madu dibalik semua itu, Wallahu’alamu bishawab,” pungkasnya. (Ru)

News Feed