oleh

Kisah Murniati, Caleg PBB yang Penuh Inspiratif

BULUKUMBA, SEKILAS INDONESIA- Bulukumba Butta Panrita Lopi tempat dilahirkan Murniati, tepatnya pada tanggal 08 Juni 1975 Bulukumba. Desa Tambangan, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Ayah bernama Puang Eceng Palannassi Banong masih keturunan dari Karaeng Mattu Dg Pahakkang (Karaeng Kajang), sedangkan Ibunya bernama Puang Halinang Hasan Kinong turunan Karaeng Boto Daeng Pabeta (Puang Barani/Karaeng Kajang).

Murniati merupakan anak yang kedua dari tujuh bersaudara. Dari kecil kedua orang tua beserta keluarga besarnya mengajarkan tentang sikap, tata krama, sopan santun, etika, ilmu keagamaan, mengaji, dan kemandirian dalam segala bidang.

Bahkan sejak masuk usia SD dia harus hidup lebih mandiri lagi karena harus masuk ke Pondok Pesantren Babul Khaer Kalumeme Bulukumba hingga tingkat SMA (Madrasah Aliyah).

Lanjut kuliah di IAIN sekarang UIN Alauddin Makassar. Di kampus IAIN inilah Murniati mengambil jurusan BAHASA ARAB (S1) dan (S2). Semasa kuliah ia sudah aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan dan keagamaan. HMI pun adalah organisasi yang juga ikut membesarkan hingga kini.

Bahkan saat ini dia masih dipercayakan menjabat sebagai Ketua MD FORHATI Gowa. Sejumlah organisasi daerah seperti KKMB, KNPI, BKPRMI, Persatuan Muslim Sedunia, dan lain sebagainya.

Semasa kuliah tidak selancar dan segampang anak kuliahan lainnya yang terlahir dari keluarga serba ada, namun keuletan dan kerja keras orang tua yang rela banting tulang mengongkosi hingga selesai. Bahkan beberapa batu kerikil kadang menjadi penghambat ketika menuntut ilmu, namun itu dia jadikan motivasi dan semangat untuk lebih baik dan lebih baik lagi serta bermanfaat kepada orang banyak.

Bahkan masih mengingat dengan jelas bersama saudara seperjuangan yang kini menjabat sebagai Ketua KPU Sulsel pernah merasakan bagaimana menjadi pengusaha dengan berjualan kelapa dan gula merah. Ah, sangat berkesan dan terenyuh jika diingatnya. Ia itulah hidup, jika tak berproses maka akan terasa hambar rasanya.

Setamat kuliah, masih saja aktif di beberapa lembaga baik tingkat lokal hingga nasional bahkan aktif menjadi penceramah di beberapa event serta menjadi pelatih ibu-ibu BKMT di Gowa.

Hingga jodohpun tiba bertemu dengan orang Gowa. Sama sama berproses dari nol, hingga sang suami diamanahkan oleh masyarakat Borongpalala Pattallassang, Gowa menjadi Kepala Desa, padahal usia sang suami masih muda bahkan menjadi Kepala Desa termuda di Sulawesi Selatan.

Namun Takdir Allah harus diterima, di saat sang suami memimpin Desa Borongpalala masuk tahun kedua, Ia harus dipanggil oleh Allah SWT lebih dahulu. Suami meninggalkan 4 orang anak. 1 laki-laki dan tiga perempuan. Usia si Bungsu saat Ayahnya meninggal masih 3 bulan 10 hari. Peran sebagai ibu sekaligus ayah menjadi satu sejak suami meninggal pada 22 Oktober 2014 di Jakarta.

Sejak dulu Murniati sudah masuk kader PBB alias partai Bulan Bintang. Beberapa kali ditawarin beberapa Parpol lain, namun dia masih saja setia pada partai ini. Posisi di partai ini sebagai Ketua Muslimat Bulan Bintang dan juga sebagai Wakil Ketua DPW PBB bahkan menjadi pengurus PBB Pusat.

Partai inipun mengantarkan untuk menjadi kendaraan maju menjadi calon Wakil Rakyat di Propinsi untuk DAPIL V (Bulukumba dan Sinjai) dengan nomor Urut 1.

Saat keluarga, mitra, rekan dan sahabat mengetahui dirinya maju menjadi Caleg Provinsi, mereka pun menyambutnya dengan gembira, bahagia, bersyukur dan bekerja keras untuk membantu memenangkankan secara santun dan terhormat. Banyak orang bilang jika maju menjadi Caleg itu harus yang bermodal atau berkantong tebal.

Tapi tidak dengan Murniati, dia maju menjadi caleg bermodal niat, keberanian, serta keinginan untuk melakukan perubahan. Bahkan saat sosialiasi pun dia mengemudi kendaraan Makassar-Gowa-Bulukumba-Sinjai.

Inilah kisah Murniati yang penuh inspiratif, semoga bisa jadi pembelajaran bagi para pembaca yang sering menanyakan siapa sosok dia sebenarnya. (Andi Alfian)

Editor : AR

News Feed