oleh

Gempa Berkekuatan 6,4 SR Sebanyak dua Kali Kembali Guncang Pulau Lombok

LOMBOK, SEKILASINDO.com – Meski penderitaan warga Lombok belum pulih, gempa bumi dahsyat kembali mengguncang Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (19/8/2018).

Gempa tersebut mengakibatkan Sejumlah bangunan rusak, termasuk dua masjid.

Bahkan Gempa kali ini sempat terjadi dua kali dalam kurung waktu lima menit yakni sekitar pukul 12.00 Wita.

Getaran gempa pertama berkekuatan 5,4 SR dan disusul kedua 6,5 SR. Getarannya turut dirasakan hingga di Pulau Sumbawa.

Akibatnya kejadian ini satu unit masjid di Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat mengalami kerusakan di bagian atasnya. Sedangkan satu masjid lainnya di Kecamatan Seteluk mengalami retak-terak pada bagian dinding.

Mengetahui kejadian ini, Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, langsung melapor kepada Presiden RI Joko Widodo.

“Pak Jokowi yang terhormat, Lombok dilanda gempa lagi, di atas 5 dan 6 SR. Desa-desa di selatan hancur dan rakyat keluar berhamburan sambil melihat sisa-sisa hidup mereka hancur. Belum selesai tiga gelombang gempa sebelumnya, sekarang datang lagi,” cuit Fahri di akun Twitternya.

“Saya mendapat beberapa video dan gambar kiriman tim saya di lapangan. Sungguh bencana ini besar. Gempa ini seperti datang untuk menyudahi pekerjaannya menghancurkan sisa-sisa harapan. Dan rakyat dalam kepasrahan yang melemahkan,” lanjut Fahri dengan tagar #BantuLombok.

Dia juga melaporkan adanya sejumlah masjid yang rusak akibat dua kali getaran gempa berkekuatan besar tersebut.

“Masjid-masjid yang runtuh telah membuat masyarakat semakin paham bahwa pada akhirnya, Allah saja tempat meminta tolong. Sungguh mudah bagi masyarakat untuk mengabaikan negara karena bencana dianggap sebagai bagian dari komunikasi langit,” kata Fahri.

“Bencana ini dan bencana apapun adalah kasih sayang Ilahi yang sulit dimengerti dengan nalar. Padahal ‘telah terjadi kerusakan akibat ulah tangan manusia’. Bumi kita semakin tidak seimbang karena kerakusan yang merajalela, dicukur, dikeruk, dan diisap hingga lumat,” lanjut politikus PKS ini.

“Tapi layaklah negara menikmati kesabaran rakyat? Layaklah bencana ini dilihat sebagai belas kasihan yang sukarela semata? Layaklah negara abai dan bersikap pelan? Layakkah kemiskinan seketika ini juga oleh negara sebagai musibah yang diterima dengan pasrah semata?” tanya Fahri.

 

Editor : Sukri SR

News Feed