oleh

Ruang Politik di Media Sosial

SEKILASINDO.COM – Yang perlu diperhatikan, jumlah pengikut yang besar di media sosial—termasuk popularitas di media—tak selalu bisa diterjemahkan ke kotak suara. Popularitas atau tingkat keterkenalan yang tinggi tidak selalu menjamin tingkat keterpilihan karena ada banyak faktor yang membuat partai dipilih. Namun, mengabaikan media sosial sembari berharap pada kampanye offline belaka juga sebuah kekeliruan.

Selain itu, aktivitas di media sosial akan sia-sia jika gagal mengapitalisasi momen-momen politik. Kita bisa melihatnya pada Gerindra. Meskipun paling agresif di media sosial, selama tiga tahun belakangan publik tidak benar-benar melihat Gerindra sebagai kekuatan oposisi yang tangguh—setidaknya itulah citra yang muncul di media sosial.

Alih-alih kritik dan tawaran alternatif atas pelbagai kebijakan pemerintah, kita justru lebih sering menemukan pesan-pesan nyinyir. Misalnya ketika Fadli Zon, kader Gerindra paling populer di media sosial, menyindir menteri Susi Pudjiastuti dan Sri Mulyani melalui media sosial tanpa berusaha membangun basis kritik yang jelas.

Contoh lain ketika mengampanyekan penolakan terhadap RUU KUHP yang dinilai akan membungkam demokrasi, Gerindra memakai kutipan Wiji Thukul dalam postingan akun Instagram resmi partai. Tapi bagaimana mungkin partai yang ketuanya diduga menghilangkan Wiji Thukul bisa menggunakan kutipan sang penyair?

Pesan oposisi yang yang sebenarnya strategis itu akhirnya menguap.

Dua contoh itu berujung blunder dan justru menuai serangan bertubi-tubi dari warganet. Karakteristik “serangan balik” dari warganet ini memang mesti dipahami sebagai faktor yang melekat dalam kampanye media sosial, betapapun positif kampanye yang coba dibangun.

Meski punya tingkat kejenuhannya sendiri, jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia terus bertambah. Ruang ini semakin jadi palagan penting dalam pertempuran membentuk opini publik. Artinya, partai politik harus serius menggarap media sosial jika ingin menjangkau para calon pemilih dari kalangan Milenial.

Pengabaian media sosial hanya akan menunjukkan kegagapan untuk beradaptasi dengan teknologi dan terutama dengan anak-anak muda. (*)

Sumber : wpu

Editor : Hr

Anda mempunyai ide dan karya yang orisinil, cerdas, dan mencerahkan yang senafas dengan misi kami untuk melakukan pembaharuan hukum-politik Indonesia, silakan kirimkan tulisan, foto, video atau segala bentuk inovasi kreatif lainnya melalui email: [email protected]

News Feed